12/19/2015

Seri Bharatayudha : Kresna Duta (PART 8)


 Gambar : Prabu Dewasrani


Prabu Dewasrani tewas terkena semburan api yang keluar dari mulut Wisanggeni, otomatis semua prajurit yang kewalahan menghadapi Wisanggeni segera"Tinggal Gelanggang Colong Playu". Mereka lari terbirit-birit melihat kedigdayaan Wisanggeni di medan laga.

Berita kematian Prabu Dewasrani membuat Batari Durga murka, ia merasa bahwa hal ini harus diselesaikannya sendiri. Mengingat ia harus menghentikan Bharatayudha agar para Kurawa dapat menang tanpa berperang. Lalu, ia sendiri pergi membawa pasukan denawa dalam jumlah yang sangat besar' beberapa diantaranya mereka adalah denawa-denawa bertubuh bajang atau kerdil.

Sisanya denawa-denawa bertubuh gendut, besar, gimbal rambutnya dan bertaring tajam mengandung racun mematikan. Wisanggeni mewaspadai terjadinya serangan balik yang akan dilakukan para denawa dari Kahyangan Setragandamayit. Antasena pun mulai merasakan aura negatif yang kental, ini menandakan bahwa Batari Durga berserta wadyabala denawanya akan membalas kekalahan mereka.

Dugaan Wisanggeni tepat, rupanya seluruh denawa di muka bumi sudah murka dengan kekalahan yang dialami Prabu Dewasrani. Segera para denawa menyerang secara membabi buta tanpa ampun, mereka mengeroyok Wisanggeni dan Antasena. Walaupun dikeroyok sedemikian banyaknya denawa-denawa itu, mereka berdua tetaplah yang paling tangguh.

Setelah denawa-denawa yang tadi sudah disingkirkan, kini giliran barisan denawa-denawa bajang mulai menyerang seperti lebah yang baru saja dirusak sarangnya. Mereka mengamuk dan taringnya tajam-tajam sekali, tajamnya taring mereka bagaikan ikan piranha.

Mereka mulai menggigit Wisanggeni dan Antasena secara bersama-sama, ada yang menggigit kepala' ada yang menggigit tangan dan ada pula yang menggigit kaki. Namun, lagi-lagi Wisanggeni dan Antasena kembali memenangkan pertarungan setelah mereka mengeluarkan jurus masing-masing.

Tidak sedikit denawa-denawa dari Kahyangan Setragandamayit terbunuh dalam serangan itu, salah satu denawa yang selamat datang menemui Batari Durga. Denawa yang selamat itu mengabarkan bahwa semua pasukan denawa dari seluruh yang ada telah tumpas. Batari Durga marah besar mendengar berita itu, ia segera memerintahkan dua pengawal pribadinya' yakni Pandumeya dan Jarameya untuk mengundang Batara Kala untuk menjadi senapati dalam usaha menumpas para Pandawa yang hendak melangsungkan Bharatayudha.

Segera Pandumeya dan Jarameya pergi menuju ke Kahyangan Selamangumpeng untuk memberitahu keadaan di medan perang kepada Batara Kala. Sesampainya disana mereka berdua menemui dewa yang gemar makan daging manusia itu, Pandumeya mengatakan bahwa malam ini Batari Durga memerintahkan dewa raksasa tersebut menjadi senopati.

Mendengar laporang itu, Batara Kala sangat antusias karena sudah lama ia tidak berperang karena terlalu sering banyak makan dan tidur. Lalu Pandumeya memberitahukan kabar duka, kabar duka itu adalah kematian Prabu Dewasrani yang sudah dilenyapkan oleh Wisanggeni dan Antasena.

Batara Kala pun tergugah amarahnya setelah mendengar berita kematian Prabu Dewasrani, langsung sang dewa bertubuh besar dan menakutkan itu pergi meninggalkan Kahyangan Selamangunpeng untuk terjun di medan tempur menghadapi Wisanggeni dan Antasena.

Batara Kala mengamuk di medan tempur, seluruh kesaktian yang ia miliki dikeluarkan semua demi mengalahkan Wisanggeni dan Antasena. Wisanggeni mewaspadai kekuatan terbesar Batara Kala, yakni sebuah jurus bernama Aji Petak Bumi yang mampu menggoncangkan bumi walaupun hanya satu kali hentakan.

Wisanggeni dengan cepat mengantisipasi serangan dahsyat itu dengan semburan api dan serangan dari bawah tanah yang dilakukan Antasena. Batara Kala tidak bodoh, ia segera membalas dengan jurus-jurus mengerikan sehingga seluruh hutan dan pegunungan terbakar.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar