6/17/2015

Seri Bharatayudha : Kresna Duta (PART 2)


Gambar : Prabu Sri Baginda Matswapati

Sesampainya di negeri Wirata, Prabu Kresna segera menemui Prabu Puntadewa dan saudara-saudaranya yang kebetulan sedang berdiskusi bersama Prabu Matswapati. Prabu Kresna menanyakan sesuatu hal mengenai nasib Pandawa Lima selama bersembunyi di Wirata.

Prabu Matswapati menjawab bahwa keadaannya baik-baik saja, bahkan kehadiran mereka berlima membuat negeri Wirata selamat dari pemberontakan dan penyerangan. Setelah mendengar hal itu, Prabu Kresna mulai tahu bahwa ia pernah merasakan aura keberadaan Pandawa Lima di negeri Wirata.

Menurut Prabu Matswapati, keberadaan para Pandawa Lima yang menyamar menjadi kaum sudra kerap menimbulkan masalah yang sepele. Misalnya, Prabu Puntadewa menyamar sebagai mantri pasar bernama Dwijakangka. Ketika menjadi mantri pasar, harga-harga sembako di Wirata cenderung naik hingga diatas harga yang direkomendasikan. Prabu Puntadewa pernah dimarahi karena dianggap tidak becus mengatur harga-harga di pasar. Namun, sebulan kemudian justru harga sembako yang dijual di pasar-pasar yang terdapat di ibukota Wirata malah jadi murah dan mudah dijangkau pembeli.

Begitupun ketika Werkudara menyamar sebagai anak angkat Ki Jagal Walakas, sang Arya Panenggak menyamar sebagai pemuda yang bekerja sebagai tukang potong hewan bernama Jagal Abilawa.
Selama menjadi tukang potong hewan kerjanya cuma tidur, kalau ada hewan yang hendak di potong atau di jagal' Werkudara tidak pernah menggunakan pisau atau golok.

Tetapi, menggunakan Kuku Pancanaka yang merupakan identitas ksatria keturunan inkarnasi dewa angin Bhatara Bayu. Sehingga dalam waktu beberapa menit saja, hewan-hewan yang siap dipotong sudah tersaji dalam bentuk daging segar siap jual.

Ki Jagal Walakas mendapat untung besar akibat dari apa yang dilakukan Werkudara saat menyamar sebagai tukang jagal hewan. Bahkan dalam waktu 2 minggu stok daging di Wirata melampaui kuota dan kuota yang terlampau jauh itu malah di ekspor ke negeri-negeri tetangga.

Lalu, lain halnya dengan Arjuna yang menyamar sebagai guru seni' Arjuna merubah penampilannya menjadi banci kaleng dengan sebutan Wrahatnala. Profesi Arjuna dalam menjadi banci adalah mengajari orang-orang di Wirata dalam berkesenian. Bahkan akibat ulah Arjuna itu, jumlah seniman-seniman terkenal di Wirata bahkan menjadi populer berkat ajaran yang dilakukan olehnya.

Terakhir, tinggal sepasang anak kembar yang bernama Nakula dan Sadewa' Nakula menyamar sebagai petani desa dan Sadewa menyamar sebagai penggembala ternak. Nakula mengubah namanya menjadi Darmagranti dan Sadewa mengubah namanya menjadi Tripala.

Kinerja Nakula selama menjadi petani desa membuat hasil panen di pedesaan makin berlimpah dan cukup untuk keperluan sehari-hari bahkan kejeliannya dalam merawat tanaman benar-benar mengubah kesejahteraan yang tadinya standar menjadi hebat.

Sadewa tak ketinggalan dengan ide-ide cemerlangnya selama menyamar menjadi penggembala ternak, hewan-hewan ternak yang dikembangkan oleh Sadewa mampu beranak cepat hingga ratusan ekor. Terutama kuda, kalau mengasuh hewan bertenaga luar biasa ini Sadewa hanya butuh resep berupa rumput pilihan yang sudah diolah serta obat-obatan yang mengandung unsur herbal.

Hasilnya, kuda-kuda bahkan hewan-hewan ternak lainnya kebugarannya meningkat sehingga banyak negara-negara lain yang memesan kuda yang diternakan oleh Sadewa untuk keperluan militer.
Mendengar ungkapan Prabu Matswapati yang sangat blak-blakan tetapi tidak mengandung unsur kebohongan , Prabu Kresna mengatakan bahwa kehadiran para Pandawa Lima di negeri Wirata membuat negeri itu kembali menemukan kejayaannya yang dahulu hilang.

Tiba-tiba pembicaraan dihentikan oleh Werkudara, lelaki bertubuh tegap dan tinggi itu berkata bahwa ini bukan waktunya untuk membicarakan keberhasilan para Pandawa Lima dalam memajukan negara, melainkan bagaimana caranya agar negeri Amarta yang direbut lewat meja judi oleh para Kurawa bisa dikembalikan.

Akhirnya Prabu Kresna pun menjawab bahwa ia pasti akan melakukan bujuk rayu yang lembut agar Prabu Duryudana bisa mengembalikan negeri Amarta kepada para Pandawa Lima. Lantas, Prabu Kresna segera berangkat menuju Hastina guna menemui Prabu Duryudana dengan menaiki kereta kuda yang dikusiri oleh Setyaki.

Di tengah jalan, Prabu Kresna dan Setyaki dihampiri oleh 4 orang dewa tertinggi' mereka adalah Bathara Narada, Bhatara Ramabargawa, Bathara Kanwa dan Bhatara Janaka. Mereka berempat ingin turut menuju negeri Hastina untuk menyaksikan jalannya proses perundingan damai agar para Pandawa Lima bisa mendapatkan kembali hak nya.

Cerita berganti di negeri Hastina, di pasewakan agung terdapat sosok raja berambut panjang bergelombang dengan bulu dada yang lebat. Kumis lebat hingga melingkari setengah wajah bagian bawahnya. Ia adalah Prabu Duryudana, putra Prabu Dhestarastra dengan Dewi Gandari' raja yang satu ini terkenal emosional dan pelit.

Dihadapan para tamu di pasewakan seperti Resi Bhisma, Resi Durna, Patih Sengkuni, Adipati Karna beserta para menteri-menteri, Prabu Duryudana menegaskan bahwa para Kurawa harus tetap mempertahankan negeri Amarta yang sudah menjadi jajahan negeri Hastina selama 13 tahun.

Bahkan, negeri Hastina berniat ingin mengeksplorasi alam negeri Amarta yang terkenal kaya mineral dan sumber pangan yang banyak. Prabu Duryudana berkata bahwa Hastina tetap akan bersikukuh menjadikan Pandawa Lima sebagai sekelompok orang yang membahayakan.

Resi Bhisma menasehati bahwa selayaknya para Pandawa Lima harus diberi hak sebagai pewaris tahta karena Pandawa Lima adalah keturunan penguasa terdahulu. Namun, Prabu Duryudana tidak peduli akan semua itu, ia tetap menginginkan Pandawa Lima tidak dapat berkuasa atau mendapatkan harta benda.

Adipati Karna yang duduk didekat Resi Bhisma mengatakan bahwa ia tidak setuju bila para Pandawa Lima tidak diberi kekuasaan. Mengingat para Pandawa Lima masih saudara Prabu Duryudana sendiri, seharusnya dikembalikan saja negeri Amarta ke tangan Pandawa Lima agar tidak menimbulkan ketidakpuasan rakyat yang menilai rajanya terlalu gila harta.

Ucapan Adipati Karna yang terlalu kritis dan tidak melihat situasi maupun kondisi membuat telinga Prabu Duryudana merasa kemasukan lebah. Dengan nada teriakan yang tinggi, Prabu Duryudana mengusir Adipati Karna yang sudah tidak pro terhadap Prabu Duryudana. Resi Bhisma juga ikut keluar dari pasewakan karena sang resi tahu bahwa apa yang dikatakan Adipati Karna ada benarnya.

Setelah Resi Bhisma dan Adipati Karna meninggalkan pasewakan, tiba-tiba datang prajurit penjaga melapor' dalam laporannya prajurit itu memberitahukan kedatangan Prabu Kresna beserta rombongan. Dalam waktu sebentar saja setelah prajurit itu masuk menemui Prabu Duryudana, Prabu Kresna sudah berada di pintu masuk pasewakan bersama keempat dewa yang tadi menumpangi kereta kudanya. Kedatangan Prabu Kresna membuat seisi pasewakan geger, mereka semua lantas melakukan sembah. Memang, yang datang adalah dewa-dewa' kalau dilihat pasti ada keperluan penting yang tidak main-main.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar