4/17/2014

MAHABHARATA : Api Asmara Di Atas Perahu



Pada suatu hari di negeri Wirata, seorang putri bernama Durgandini duduk manis di pelataran taman keputren kedaton Wirata. Dia adalah anak dari Prabu Basukiswara dan kakak dari seorang putra mahkota bernama Durgandana. Durgandini menundukan kepalanya sambil meratapi nasibnya yang sejak dilahirkan mengidap penyakit bau amis. Disitu ia mencoba untuk menenangkan diri dari keramaian yang senantiasa mengganggunya. Dengan ditemani seorang dayang istana ia merenungkan sesuatu dibenaknya.


Durgandini : Aduh... jagat dewa bathara, mengapa aku terlahir menderita begini,
                   Seharusnya aku tak harus menerima cobaan semacam ini.

Dayang : Gusti putri, hamba mohon ampun... saya hanya bisa mengingatkan gusti, agar selalu
               Sabar dalam menghadapi cobaan dalam kehidupan ini.

Durgandini : Oh... dayang, aku merasa hidupku didunia ini sungguh tiada artinya’
                   Lebih baik aku mati saja daripada aku menjadi bahan cemoohan rakyat.

Dayang : Gusti putri, hamba mohon untuk bersabar dalam menghadapi hal semacam ini
              Karena ini adalah wujud rasa sayang dewata terhadap Gusti.

Durgandini : Dayang, sudah kubilang semua ini tak ada manfaatnya...
                   Untuk apa aku hidup didunia, kalau hanya aku tetap mendekam disini tanpa rasa tenang
                   Meskipun aku adalah anak seorang pemimpin.

Dayang : Gusti, hamba mohon jangan lakukan tindakan nekad semacam bunuh diri.
                Karena yang namanya orang mati bunuh diri tidak akan masuk surga.

Durgandini : Dayangku tercinta, biarkan tuanmu ini menentukan jalan hidupnya sendiri.
                   Jangan pernah kau perdulikan aku soal ini, karena ini akan menjadi beban dalam hati

Dayang : Lantas, apa yang akan gusti lakukan ?

Durgandini : Aku akan pergi bertapa ke hutan agar semua permintaanku bisa terkabul.

Dayang : Gusti, tolong... jangan pergi tinggalkan kedaton ini’ nanti hamba bisa dimarahi.

Durgandini : Dimarahi, aku tak perduli kau akan dimarahi ayahanda prabu...
                   Yang jelas tekadku sudah bulat untuk bertapa dihutan agar penyakit ini sirna ditubuhku.

Dayang : Gusti, jangan... gusti.... kembali gusti putri... hamba mohon kembalilah.
              Gusti putri.... gusti putri...... tolong jangan pergi......


Akhirnya tanpa seizin ayahnya, Durgandini pergi dari kedaton untuk pergi bertapa ke hutan agar penyakit yang ia derita selama ini bisa sembuh total. Sementara dayang kedaton yang tak kuasa melihat kepergian tuannya itu hanya bisa menangis dan memberi doa agar tuannya itu setelah kembali dari hutan dalam keadaan hidup.

Lalu, Durgandini pun melakukan perjalanan menuju hutan yang lokasinya berdekatan dengan Air terjun.
Maka disanalah Durgandini melakukan tapa bratanya agar penyakit yang diidapnya bisa sembuh, dengan langkah pasti ia segera mengenakan busana serba putih untuk melakukan tapa brata. Kemudian tapa brata sang Durgandini akhirnya dilaksanakan selama 30 hari tanpa henti. Sampai suatu ketika di hari terakhir ia bertapa ada seorang Dewa datang ke tempat dimana sang Durgandini berada. Dewa itu bernama Narada, ia datang kesana atas keprihatinannya terhadap Durgandini yang ingin sembuh penyakitnya.


Narada : Wahai cucuku, mengapa engkau disini ? dan mengapa kau berbusana serba putih ?
               Lalu apa keinginanmu sehingga Para Dewa di kahyangan merasa iba padamu.

Durgandini : Oh.... pukulun Narada, hamba mohon supaya apa yang hamba rasakan kini bisa hilang.
                   Sudah semenjak kecil hamba menderita penyakit yang menyiksa ini.

Narada : Penyakit ? jadi kau menderita penyakit... dan kau mau tahu apa obatnya, Durgandini.

Durgandini : Benar pukulun, hamba mohon cari tahu dimana obatnya berada.
                   Hamba ingin penyakit ini sembuh dan hamba tak ingin menderita lagi.

Narada : Cucuku Durgandini, obat penyakit yang kau derita sejak lahir ada di bantaran sungai.
              Bukan tumbuhan atau hewan, melainkan seorang resi yang katanya bisa menyebuhkan penyakit.

Durgandini : Seorang resi ? apa dia bisa menyembuhkanku pukulun Narada ?

Narada : Oh...., tentu saja bisa... dia adalah resi yang ahli pengobatan.
              Segala macam penyakit yang ia obati, niscaya akan sembuh dalam sekejap.

Durgandini : Benarkah ? Syukurlah... akhirnya penyakitku akan segera sembuh.

Narada : Durgandini, kebetulan resi tersebut sedang ingin menyeberang sungai.
              Tetapi ia tak berani karena sungainya yang sangat dalam.
              Cobalah kau tolong dia, dia butuh penyeberangan sungai.

Durgandini : Tapi, bagaimana hamba bisa membantunya ?

Narada : Di tepi sungai ada perahu kosong... coba kau gunakan perahu itu, seberangkan dia sampai ke hilir.
              Siapa tahu dia akan membalas perbuatanmu.

Durgandini : Baiklah kalau begitu, hamba akan melaksanakan apa yang pukulun sarankan.


Dalam sekejap mata dewa itu menghilang dari hadapannya, langsung saja Durgandini menghentikan tapa bratanya dan segera menuju sungai untuk membantu seorang resi yang sedang membutuhkan bantuan penyeberangan sungai. Karena sungainya cukup dalam untuk diseberangi sendirian, makanya Durgandini menggunakan perahu nganggur untuk dipakai menyeberangkan resi itu.

Sesampainya di sungai Durgandini menemui resi tersebut dan menanyakan apa keperluan resi tersebut yang ingin menyeberangi sungai. Dan rupanya saat Durgandini hendak bertanya, dia malah terdiam melihat wajah resi itu yang cukup tampan dan gagah. Sehingga rasa suka pun timbul dari hati nurani sang durgandini, karena orang yang akan ditolongnya ternyata seorang pertapa yang tampan.

Durgandini : Maaf  kisanak..., apa bisa saya bantu ?

Palasara : Oh... rupanya ada orang’ aku kira di sungai ini tidak ada orang.
                Aku mau menyeberang kesana untuk menuju sebuah perkampungan.

Durgandini : Mau menyeberang tuan, mari saya antarkan dengan perahu ini.

Palasara : Hah, memang kau bisa seberangkan aku kesana dengan perahu ini ?

Durgandini : Biarpun saya hanya seorang wanita, tetapi saya adalah penyeberang disini.

Palasara : Oh... baiklah, aku akan menaiki perahumu.



Kemudian Resi Palasara menaiki perahu yang akan dikemudikan Durgandini menuju seberang.
Dalam perjalanan menuju seberang, Resi Palasara memandang indahnya pemandangan alam begitupun saat ia menolehkan wajahnya ke arah Durgandini. Ada perasaan yang timbul dari pandangan pertama sang Palasara, karena baru kali ini ia menemui wanita cantik dipinggir sungai yang berprofesi sebagai juru mudi perahu penyeberangan. Dan munculah keisengan sang resi selama perjalanan berlangsung dengan berbincang-bincang sambil berbasa-basi.

Palasara : Hmm... siang ini panas sekali, ngomong-omong kau lumayan cantik juga rupanya.

Durgandini : Hah... jangan begitu ahh... saya jadi malu, padahal saya ini hanya orang kecil tuan.

Palasara : Kalau engkau memang orang kecil, mengapa wajahmu begitu bersinar bagai bulan purnama ?

Durgandini : Tuan, hamba bukan siapa-siapa... hamba hanya orang yang hidup serba susah
                   Tidak usah tuan menyanjung-nyanjung saya.

Palasara : Sungguh, aku tak berbohong... kau sungguh cantik dan menawan tentunya.
               Aku mau tahu siapa namamu, dan asalmu dari mana ?

Durgandini : Saya dari Wirata, nama hamba Durgandini... putri raja Basukiswara.

Palasara : Oh.... pantas saja, kau memang cantik sekali’ rupanya kau adalah seorang putri raja besar.
                Ngomong-omong mengapa kau berada disini ? bukankah kau seharusnya berada di kedaton ?

Durgandini : Terus terang saja, saya memiliki kekurangan diantara sekian banyaknya kekurangan.
                   saya menderita penyakit yang sejak lahir, yang telah membuat hamba menderita.

Palasara : Jadi begitu masalahmu, baiklah... aku akan menyembuhkan penyakitmu tetapi dengan syarat
                Kau harus menemaniku sampai diseberang sana.

Durgandini : Ehm... bagaimana  yach ? baiklah kalau begitu, saya akan melakukannya demi tuan.
                   Oh... ya, nama tuan siapa ? saya belum kenal tuan.

Palasara : Namaku Resi Palasara, dari pertapaan Saptaarga.. aku sengaja ingin pergi ke sana hanya untuk
                melayat ke makam ayahku dan beliau juga seorang Resi, namanya Resi Sakri.

Durgandini : Jadi nama tuan Palasara, dan tuan adalah putra Resi Sakri.

Palasara : Betul, aku memang keturunan Brahmana... ayahku dulu seorang Brahmana yang sakti mandraguna.
                Sayangnya beliau wafat dalam menjalankan tugasnya karena dibunuh.

Durgandini : Oh... begitu rupanya, saya kira tuan masih punya orang tua.
                   Tapi ternyata orang tua tuan sudah meninggal.

Palasara : Sudahlah, jangan banyak bertanya... nanti tak kunjung sampai perjalanannya.

Durgandini : Baiklah.... Sang Resi, saya tahu apa yang tuan kehendaki.

Kemudian di tengah perjalanan, Durgandini menghentikan laju perahunya dan segera meminta agar Resi Palasara mau mengobati penyakitnya sampai sembuh. Akhirnya sang resi pun mulai menjalankan ritual untuk mengobati penyakit Durgandini. Tak lama berselang, penyakit yang diderita Durgandini sejak kecil sembuh total tanpa meninggalkan sesuatu sedikitpun.



Palasara : Durgandini, sekarang coba kau rasakan... apa perasaanmu sesudah kuobati ?

Durgandini : Duhai sang resi, hamba mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas pertolonganmu.
                   Berkat tuan.. penyakit yang menjangkit tubuh hamba kini hilang sudah.

Palasara : Kau tak perlu begitu padaku, berterima kasihlah pada Yang Maha Kuasa.
                Karena kau sudah bersabar dalam menghadapi cobaan ini sehingga Dia mau menjawab doamu.

Durgandini : Oh... tuan, bagaimana cara saya membalas budi atas pertolongan tuan ?

Palasara : Tadi kan sudah kubilang, temani perjalananku sampai keseberang sana.
                Mengapa kau tiba-tiba lupa perkataanku tadi ?

Durgandini : Maafkan saya tuan, saya terlalu kegirangan menerima kesembuhan dari pertolongan tuan.

Suasana di tengah-tengah sungai kian sepi, tiba-tiba muncul kabut hitam melayang diatas permukaan sungai.
Dalam keadaan semacam itu, Durgandini hanya bisa diam terpaku melihat kegagahan Resi Palasara yang makin lama makin membius hatinya. Begitupun Resi Palasara, yang juga mulai tertuju pandangan kedua matanya ke arah Durgandini setelah melihat hal tak terduga. Yaitu rasa cinta yang timbul antara 2 manusia diatas perahu kecil. Lalu Resi Palasara dengan mesra menanyakan sesuatu kepada Durgandini, yang dilihatnya hanyalah keindahan wajah dan kemolekan tubuhnya. Sama dengan Resi Palasara, Durgandini mulai terpikat oleh kekarnya tubuh sang resi sehingga ia seolah dimabuk kepayang.

Palasara : Durgandini, kok tiba-tiba kabut mulai menutupi jalan perahu yang kita tumpangi ini ?

Durgandini : Saya juga tak mengerti tuan, entah mengapa suasana jadi sunyi tak bersuara begini ?

Palasara : Mungkin inilah kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu.

Durgandini : Sesuatu apanya ?

Palasara : Ya..... aku sesungguhnya memang suka padamu.

Durgandini : Saya juga begitu tuan, saya juga suka pada tuan.

Palasara : Durgandini... izinkan aku mendekap tubuhmu yang mungil ini, kau seperti bidadari saja.

Durgandini : Engkau juga sang resi, aku seperti didatangi ksatria tampan dari kahyangan saja.

Palasara : Bagaimana kalau kita lakukan sekarang ?

Durgandini : Benarkah ? kau mau lakukan itu, baiklah... akan aku layani...
                   Tapi, pelan-pelan saja... aku tidak suka terlalu kasar... nanti bisa lecet....

Palasara : Oh,... kau mau yang enak-enak ? baiklah... biar aku lepas dulu pakaianku ini.

Durgandini : Oh, iya... aku lupa, aku juga merasa gerah... aku mau lepas juga ahh...
                   Kau yakin, kau bisa mengalahkanku ?

Palasara : Tentu saja, biarpun aku belum pengalaman... tetapi aku ini jago bertarung.

Durgandini : Ehm... baiklah kalau begitu, ayo kita lakukan sekarang....

Palasara : Baik, bersiap-siaplah kau... aku yakin kau pasti akan kutundukan hari ini juga.

Tanpa ragu-ragu Resi Palasara dan Durgandini melampiaskan rasa cinta antara mereka berdua dengan melakukan pertarungan birahi. Dalam singkatnya, Resi Palasara mulai mengeluarkan keperkasaannya dihadapan Durgandini dengan penuh percaya diri. Durgandini hanya bisa terpukau dengan asmara yang membuat dirinya lupa diri. Sampai-sampai hal semacam itu harusnya tak lazim terjadi di atas perahu yang mereka tumpangi bersama. Sampai suatu ketika Durgandini tubuhnya berkeringat setelah beribu-ribu serangan dilancarkan Resi Palasara bertubi-tubi.


Durgandini : Ahh... aduh.... jangan kasar-kasar begitu, sakit tahu !

Palasara : Hmm... bagaimana ? apa kau sudah mengetahui kekuatanku ini ?

Durgandini : Ihh.... ehm.... awww....... yeach.... yeach….. rupanya kau mampu membuat aku begini !

Palasara : Sudahlah, jangan banyak bicara… biar ku lanjutkan sampai ada kata puas diantara kita

Durgandini : Baik… tapi jangan seperti tadi, sakit tahu !!!!

Pertarungan pun terjadi semakin menggairahkan, sehingga api didalam jiwa mereka berdua kian lama kian membara karena berbahan bakarkan cinta yang tertanam. Pertarungan birahi itu berlanjur hingga salah satu diantara mereka ada yang kelelahan. Dalam keadaan tak berbusana, mereka saling berciuman dan saling cumbu dengan penuh mesra.


Durgandini : Aku sudah tak mampu lagi, tolong hentikan ini tuan....

Palasara : Baiklah.... cukup sampai disini saja, nanti kita lanjutkan lain waktu.

Durgandini : Tuan, cepatlah pakai busanamu... nanti kalau tak dipakai nanti bisa diketahui orang lain.

Palasara : Ya.... sudah, apa lagi kabutnya makin lama makin memudar, lebih baik kita hentikan ini.

Semenjak saat itu Resi Palasara dan Durgandini menjadi sepasang suami istri yang rukun dalam kehidupan berumah tangga. Dari hasil percintaan mereka lahir seorang pemuda gagah yang juga menjadi Resi seperti ayahnya, anak itu bernama Abiyasa. Dalam perjalanannya, kisah cinta antara Palasara dengan Durgandini berakhir saat sang resi memutuskan untuk pergi dan tak pernah kembali. Sebelum sang resi pergi, sang resi sempat merubah Durgandini kembali menjadi perawan dengan ilmu kesaktiannya.

Palasara : Durgandini, maafkan aku soal ini

Durgandini : Soal apa kakang ?

Palasara : Aku sebenarnya tak ingin hubungan ini diketahui orang, bahwa saat ini kita sudah punya anak

Durgandini : Lho.. memangnya kenapa ? kan kita harusnya senang karena kita punya anak

Palasara : Ini bukannya senang, tetapi aku takut nantinya hubungan kita yang sudah terlanjur jauh ini
               Akan tidak disetujui orang tuamu dan mereka tak mungkin menerimaku sebagai menantu

Durgandini : Benar juga perkataanmu, lalu bagaimana agar hal semacam ini tak diketahui orang ?
                   Termasuk ayah & adikku ?

Palasara : Oh... ya, begini saja... bagaimana kalau kau akan kukembalikan statusmu menjadi perawan ?


Durgandini : Bagaimana mungkin, aku kan sudah melahirkan dan mana bisa aku kembali menjadi gadis ?

Palasara : Kau tak usah cemaskan Abiyasa, soal dia biar aku yang merawatnya.

Durgandini : Jadi, kau akan pergi kakang ? lalu bagaimana denganku setelah aku berpisah denganmu
                   Selamanya, dan tak mungkin aku akan bertemu denganmu lagi ?

Palasara : Jangan takut akan kepergianku ini, setelah kau menjadi perawan lagi... kau kusarankan untuk
               Menikah dengan Raja Negeri Hastinapura yang bernama Sentanu.

Durgandini : Apa ? kau mau aku menikah dengannya ?
                   Tidak kakang, selama ini aku tahu... bahwa dia sudah punya istri yang bernama Gangga

Palasara : Durgandini, sekarang raja Hastinapura itu telah menduda karena istrinya telah pergi.

Durgandini : Yang benar kakang, apa kau yakin aku akan bahagia bila menikah dengannya ?

Palasara : Yakinlah, aku sangat yakin bila kau menjadi istrinya dan kelak kau akan menjadi ratu di Hastina
                Juga kau akan menurunkan raja-raja besar di negeri itu.

Durgandini : Baiklah kakang, kalau ini memang jalan terbaik untuk menutupi aib ini.

Setelah berbicara dengan Durgandini, Resi Palasara pun segera berkemas membawa pakaiannya beserta anaknya yang masih bayi itu. Dengan selendang jingga, Resi Palasara menggendong Abiyasa dengan erat dan segera mengucapkan mantera suci yang bertujuan untuk merubah kembali Durgandini menjadi perawan seperti sedia kala. Dengan kekuatan ajaibnya, tubuh Resi Palasara mentransfer energi positif ke tubuh Durgandini sehingga tubuh istrinya itu kembali sehat seperti saat sebelum melahirkan.


Palasara : Durgandini, inilah masa-masa terakhir antara kau dan aku.
                Semoga kelak di alam baka kita bisa berjumpa lagi.

Durgandini : Kakang, selamat tinggal... suatu hari nanti di alam keabadian kita akan bertemu lagi
                   Tentunya bersama Abiyasa.....

Kemudian Resi Palasara akhirnya pergi meninggalkan Durgandini dengan membawa Abiyasa yang masih bayi dan tidak tahu apa-apa soal ini. Yang jelas,  jejak hubungan asmara antara mereka berdua tak akan diketahui siapapun kecuali para dewa yang telah menulis sejarah kisah cinta secara singkat ini. Kelak dikemudian hari ada beberapa sejarah baru yang akan terjadi setelah kejadian ini, dimana Durgandini kelak akan menjadi permaisuri Prabu Sentanu raja Hastinapura dan menurunkan 2 anak laki-laki yang menjadi raja, yaitu Citranggada dan Wicitrawirya.

TAMAT

 



 
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar