1/12/2013

Mahabharata : Citranggada, Raja Muda Tanah Kuru yang Ambisius

                                              Gambar : Prabu Citranggada, raja Hastinapura


Masih ingatkan anda dengan sumpah Dewabrata ?
Sumpah itu mengatakan bahwa dirinya tak akan berketurunan demi menjaga kedamaian antara sesama putra Prabu Sentanu ketika adiknya, Citranggada hendak diangkat sebagai raja Hastina.

Kalau benar sumpah yang dikatakan sang Ganggaputra efektif menyelamatkan seluruh dinasti, mengapa masih ada saja halangan yang mencegatnya ?

Yang mencegat sumpah itu adalah takdir dewata, memang perang Bharatayudha terjadi akibat dari rencana dewata menumpas angkara murka dari muka bumi. Namun, bagaimana kronologi terjadinya masa-masa sebelum Pandawa & Kurawa dilahirkan ?

Inilah kisahnya, dahulu ada seorang raja yang bernama Prabu Citranggada atau Citrasoma.
Raja yang satu ini tergolong masih muda sekali, mengingat umurnya baru 17 Tahun ia sudah menjadi penguasa negeri bharata. Pada waktu itu Citranggada menjadi raja atas keinginan sang kakak' Bhisma.

Bhisma yang sudah menyatakan diri akan tetap melajang seumur hidupnya kini dengan ikhlas merelakan tahta yang diwariskan Prabu Sentanu. Bhisma menyadari bahwa sebenarnya keputusan itu tidaklah tepat' karena Citranggada bukan trah Bharata asli. Citranggada adalah raja trah campuran antara trah Bharata dengan trah Wirata. Maka yang berhak menjadi raja di Hastina adalah Bhisma dan seharusnya Citranggada menjadi pewaris tahta Wirata, bukannya Matswapati.

Tetapi memang sudah jadi keputusannya, karena ini adalah keputusan sepihak yang tak bisa diganggu gugat. Maka seusai menuntut ilmu, Citranggada di sahkan sebagai raja baru Hastinapura menggantikan Prabu Sentanu yang meninggal dunia.

Citranggada terkenal punya rencana besar untuk menjadi penguasa dunia, ia terobsesi seperti leluhurnya yang pernah menguasai seluruh tanah hindustan. Maka dari itu untuk mewujudkannya Citranggada menyatakan perang terhadap beberapa kerajaan-kerajaan di seluruh tanah hindustan.

Rencana ini mulanya di kecam oleh Bhisma dan Abiyasa, namun karena tekadnya sudah bulat' Citranggada melancarkan aksinya dengan sejumlah teror kemanusiaan. Hampir seluruh negara-negara yang ada disekitar wilayah tanah hindustan ditaklukan lewat peperangan.

Peperangan yang berlangsung selama 3 tahun ini membuat seluruh penduduk menderita, kelaparan dan kemiskinan adalah akibat dari perbuatan Citranggada. Semua sumber daya alam dikuras habis-habisan lalu diboyong ke Hastinapura.

Raja-raja seribu negara takluk dihadapan Citranggada Yang Agung, meskipun usianya masih muda tapi aura panasnya sangat terasa hingga membuat para Brahmana mengadu kepada Bhisma, sang kakak.

Bhisma yang sudah bermukim di Pertapaan Talkanda tidak bisa menjawab tuntutan para brahmana yang mulai resah dengan ulah Prabu Citranggada yang kian menjadi-jadi hausnya.

Di Pertapaan Saptaarga pun demikian, para penduduk desa mengadu kepada Abiyasa mengenai tindak-tanduk Prabu Citranggada yang tidak mementingkan keselamatan rakyat dan hanya menjadi korban kebinatangan raja Hastina tersebut.

Di lain waktu, Bhisma menemui Prabu Citranggada dan menasehatinya' namun sang raja tetap membantah dan tidak menuruti kata-kata sang kakak. Berbagai macam petuah sudah dikatakan kepada Prabu Citranggada, tetapi sayang hal itu tak membuatnya menghentikan aksi brutalnya.

Para Dewa yang ada di kahyangan mulai geram dengan ulah Prabu Citranggada, mereka mendiskusikan kejadian tersebut dihadapan Sang Hyang Guru dan Sang Hyang Narada, mereka menuntut agar Prabu Citranggada dihukum untuk menebus kesalahannya yang telah merugikan banyak orang.

Mendengar tuntutan mereka, Sang Hyang Guru segera menugaskan Sang Hyang Wisnu untuk menghukum Prabu Citranggada agar ia mau bertaubat. Segera Sang Hyang Wisnu turun ke bumi untuk menghukum Prabu Citranggada, dalam misi nya ke alam mayapada ia menyamar sebagai seorang raksasa yang juga bernama Citranggada.

Dengan penyamarannya sebagai raksasa, Sang Hyang Wisnu menulis sepucuk surat tantangan perang untuk Prabu Citranggada. Surat ini ditulis dengan darah hewan Babi, tujuannya agar sang raja terhina akibat mencium bau tintanya yang rupanya berbau darah Babi.

Dikirimlah surat itu dengan diselipkan ke batang anak panah, lantas meluncurlah anak panah yang lepas dari gandewa Sang Hyang Wisnu yang menjelma sebagai raksasa.

Ketika Prabu Citranggada sedang duduk di singgasana, anak panah itu menancap tepat dihadapan Prabu Citranggada. Lalu diambillah surat itu, setelah dibaca maka murkalah sang raja seusai membaca isinya. Ia mengamuk bukan kepalang, ia bersumpah barang siapa yang berani menantangnya maka akan mati.

Mendengar sumpah itu, Bhisma yang duduk di kursi menghalangi niat adiknya itu' ia berkata bahwa isi dari surat itu tidak boleh diurus. Karena Bhisma sempat memberitahu Prabu Citranggada bahwa yang menulis surat itu adalah mahluk yang paling sakti di muka bumi.

Bhisma meminta Prabu Citranggada untuk tidak meladeni tantangan itu, tetap saja sebagai raja yang tangguh ia tak akan mundur dari pertempuran. Segera Prabu Citranggada berangkat menemui penulis surat tantangan itu. Lalu ketika sampai ditengah jalan, Prabu Citranggada melihat seorang raksasa yang sedang berdiri dengan gandewa terlentang.

Ketika ditanya siapa yang mengirim surat tantangan itu, Raksasa itu menjawab bahwa ia sendirilah yang menulis surat itu. Mendengar ucapan Raksasa itu Prabu Citranggada makin kesal, ia baru tahu bahwa orang yang mengirim surat itu adalah raksasa yang ia tanyai tadi.

Segera raksasa itu memasang kuda-kuda untuk siap bertarung, begitupun dengan Prabu Citranggada yang juga melakukan hal yang sama. Dengan ini maka pertempuran pun dimulai antara Raksasa melawan Prabu Citranggada. 

Pertempuran tersebut berlangsung selama 3 bulan lamanya, namun tidak ada satupun yang memenangkan adu fisik yang berlangsung lama itu. Dan tibalah saatnya untuk bagian akhir dari cerita ini, yaitu pertempuran sengit antara Prabu Citranggada melawan Raksasa itu.

Ketika Prabu Citranggada hendak menghunuskan pedangnya, dari jauh Raksasa itu melepas senjata Cakra Baskara. Maka secepat kilat senjata itu melesat kearah Prabu Citranggada, dan akhirnya kepala Prabu Citranggada lepas dari lehernya. Maka tewaslah Prabu Citranggada dalam pertempuran itu dalam keadaan kepala putus.

Sementara itu di keraton Hastina, Bhisma masih menunggu usainya pertempuran dengan termanggu-manggu. Tiba-tiba datanglah prajurit penjaga yang melaporkan berita duka, prajurit itu mengatakan bahwa Prabu Citranggada telah gugur di medan laga.

Mendengar berita itu, Bhisma segera pergi mencari dimana mayat adiknya' dengan cepat Bhisma berhasil menemukannya dan ketika melihat adiknya sudah dikerumuni lalat ia hanya bisa meneteskan air mata. Bhisma berniat membalas kematian adiknya, namun ketika ia hendak melepas anak panahnya ke arah Raksasa itu, Raksasa itu segera menjelma menjadi Sang Hyang Wisnu, maka ketika melihat siapa sesungguhnya Raksasa yang telah membunuh adiknya itu, Bhisma segera melakukan sembah terhadap Dewa tersebut.

Sang Hyang Wisnu berkata bahwa ia memang dikirim untuk menghukum Prabu Citranggada yang sudah kelewatan ulahnya. Bhisma mulai sadar akan kekeliruannya yang dahulu tak mau menjadi raja' namun apa boleh buat semua itu sudah menjadi suratan takdir.

(TAMAT)










Tidak ada komentar:

Posting Komentar